|
Menggapai Sukses
Building The New You Serie's
11 Maret 2006
Mendengar kata sukses, terbersit dalam benak pikiran kita adalah segala hal yang berkaitan dengan "ukuran" sukses itu sendiri, yaitu kuantitas dari seberapa banyak harta benda yang sudah kita miliki. Seberapa tinggi tahta, pangkat, jabatan yang sudah kita raih serta seberapa banyak jumlah anak yang telah menjadi bagian dari proses reproduksi kehidupan kita sekaligus ditambah sebanyak apa wanita-wanita yang sudah "terkoleksi" dalam hidup kita...? Demikian kira-kira ukuran sukses bagi mereka yang memiliki kultur Jawa, yang dikenal dengan istilah 3 TA (tahTA, harTA, waniTA).
Berbeda pula ukuran sukses dalam budaya Cina, sukses dalam kultur Cina, diukur bila seseorang dalam hidupnya telah memiliki Shou, Hok dan Lok. Sebuah kesuksesan dalam hidupnya bila ia diberi Shou, umur yang panjang. Sebab dengan umur panjang tersebut, seseorang dapat berkesempatan mendampingi dan "melihat" nasib kehidupan anak keturunannya. Hal ini merupakan kebahagiaan tersendiri oleh karena ia dapat bertemu muka dengan cucu bahkan cicitnya.
Begitu pula bila Shou tersebut dilengkapi dengan anugerah harta yang melimpah, Hok. Dan akan menjadi sempurna bila keduanya (Shou dan Hok) berpadu pula dengan Lok, kekuasaan yang tinggi.
Adapun bagi peradaban Barat, sukses bagi orang Amerika misalnya, diukur bila seseorang telah memiliki 3P, Power-Position-Property. Power, berujud kekuatan dan kekuasaan. Position, posisi yang bagus. Property, finansial yang memadai.
Ukuran sukses sebagaimana disebutkan di atas adalah hal yang secara umum diidam-idamkan oleh banyak manusia. Semuanya merasa tergerak dan termotivasi bila sedang berbicara dan membicarakan hal-hal tersebut. Bahkan, seringkali semua dan banyak hal bisa dikorbankan guna mendapatkan semua hal tersebut.
Demikianlah, sepertinya di saat berbicara sukses, segera pikiran kita melayang kepada standarisasi ukuran sebagaimana di atas. Individu yang sukses, atau sebuah kesuksesan diukur dari sejauh mana semua hal di atas telah diraih.
Pada kesempatan ini, marilah kita melihat sisi lain tentang sukses. Sebuah kesuksesan yang diukur dari cara-cara seseorang mengapai sukses itu sendiri. Sebab selain kuantitas, ternyata cara mengapai sukses itu sendiri juga tak kalah penting untuk diperhatikan.
Oleh karena kualitas dan cara pencapaian sukses itu sendiri seringkali tak pernah diperhatikan dan terpikirkan, maka kita jumpai hari ini kesuksesan-kesuksesan yang tidak hanya semu namun juga menyakitkan, oleh sebab menempuh jalan yang kurang tepat di dalam mengapai berbagai kesuksesan dalam hidup.
Begitu banyak orang kaya, namun takut ketahuan orang lain mengenai cara ia mendapatkan kekayaannya. Banyak orang memiliki karier puncak, namun takut pula ketahuan cara bagaimana ia mendapatkan semuanya itu. Banyak orang menjadi mendadak terkenal, namun juga takut bila banyak orang yang tahu apa saja yang telah ia korbankan untuk mendapatkan kepopulerannya.
Telah banyak orang sukses, tetapi kesuksesannya menyakitkan, melelahkan bahkan ia sendiri pun terkadang tak bisa menikmatinya. Dan terlebih-lebih membuat orang-orang sekitarnya menjadi dengki dan benci terhadap dirinya.
Kenapa hal-hal itu terjadi?
Karena sukses seringkali diraih dengan cara-cara yang kurang tepat, terkadang terlalu banyak korban berjatuhan, hanya demi kesuksesan seorang diri. Betapa banyak sukses diraih lewat jalan menjatuhkan orang lain, menelikung, mengunting dalam lipatan, main potong kompas dan banyak hal lain yang kurang menguntungkan bagi kehidupan sukses jangka panjang seseorang.
Bahkan kita sampai pula pada kondisi yang sepertinya tak bisa sukses kecuali harus dengan jalan menjilat, memojokan, menjatuhkan, menghina orang lain. Untuk menang harus ada yang dikalahkan, untuk benar harus ada yang disalah-salahkan, untuk baik sekalipun harus ada orang lain yang kita ungkap keburukan-keburukannya. Dan menghinakan diri pun sering ditempuh guna mendapatkan sukses secara materiil; naudzu billahi min dzalika.
Islam, Allah dan Rasulnya, memberikan tawaran jalan lain untuk mendapatkan
dan menggapai sukses. Yaitu sebuah jalan kemuliaan, jalan yang memungkinkan
seseorang menjadi sukses, terhormat dan mulia tanpa perlu kehilangan
ataupun menghilangkan kehormatan dan kemuliaan dirinya dan orang
lain.
Rasulullah saw. Secara tegas menyatakan, "Seorang muslim adalah mereka yang tetangganya selamat dari lidah dan tangannya", dan "Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain"
Maka sukses dapat ditempuh dengan cara yang lebih mulia, yaitu dengan menjadi jalan kesuksesan bagi orang lain. Itulah sebenar-benarnya sukses. Kualitas keberhasilan yang melahirkan senyum di bibir, bukan cibiran. Senyum dihati bukan kedongkolan dan kecemasan dalam sanubari.
Pastikan bahwa dalam hidup kita jangan pernah ada orang yang merasa kesulitan dan dipersulit bila berhubungan atau bermuamalah dengan diri kita. Mari kita jadikan kehadiran kita dalam pentas kehidupan ini menjadi jalan kemudahan bagi penyelesaian sebuah masalah, jangan sampai diri kita menjadi bagian masalah itu sendiri.
Individu yang sukses adalah individu yang mampu menjadi jalan kemudahan dan kesuksesan bagi orang lain. Apalah arti mendapatkan semua kesuksesan materiil, bila cara-cara yang digunakan bertentangan dengan apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Adakah sukses tanpa ridhla Allah? Bila ada, tentu bukanlah sukses namanya!
H. Pudji H.
|