|
Si Buta Membawa Obor
11 Maret 2006
Pada
malam yang gelap, di sebuah dusun terpencil, seorang nenek tua hendak
bermaksud pergi ke kiwan (kamar mandi ala desa-sebuah bilik di pojok
belakang rumah terbuat dari sesek [anyaman bambu] yang di dalamnya
biasanya terdapat jombangan [kini, bak mandi] dan padasan [semacam
kran untuk berwudhu zaman kini]).
Tidak jelas benar apa keperluan nenek tersebut pergi ke kiwan pada
malam yang gelap gulita itu [maklum, listrik belum menyentuh keterpencilan
desa itu]. Apakah untuk buang hajat atau hendak mengambil air wudhu
untuk shalat? Atau malah, jangan-jangan, kegiatan ini sebuh rutinitas
bagi nenek tersebut.
Bagi kebanyakan orang, rutinitas seperti itu mungkin bukan sesuatu
yang aneh. Tapi bagi nenek tua yang ternyata buta ini, bukankah
sesuatu yang menakjubkan? Bagaimana ia mampu menyusuri pojok belakang
rumahnya dalam suasana pekat tanpa penerangan cahaya?
Ah, mengapa bertanya seperti itu, bukankah malam dan siang bagi
si buta pada dasarnya sama: gelap? Ketakjuban kita mungkin bisa
dialihkan pada kenyataan bahwa dalam keadaan tanpa indera mata-yang
artinya dalam kondisi tidak bisa mengenali medan lingkungan-nenek
buta tersebut masih bisa berjalan dan beraktivitas tanpa bantuan
orang lain.
Tapi, dalam kasus nenek tua buta yang sedang menuju kiwan-nya di
atas, lebih mengherankan lagi. Sebab ternyata, dia membawa obor!
Maka, bertanyalah, salah seorang tetangganya yang terheran-heran
malam itu, "Mengapa nenek membawa obor, bukankah nenek sedang buta
dan tak memerlukan cahaya lagi?"
"Oh, saudaraku, memang, saya tak lagi memerlukan cahaya obor ini.
Justru obor ini untuk memberi penerangan pada kalian agar tidak
menabrakku," jawab nenek tua itu dengan tenang. Maka, terhenyaklah
sang tetangga itu atas jawaban sang nenek. Jawaban yang sederhana,
tapi banyak makna: sindiran dalam kearifan.
Apa yang bisa dipetik dari kisah di atas? Pertama, mata batin sang
nenek ternyata telah mampu menggantikan mata lahirnya yang buta.
Bahkan terlihat bahwa mata batin itu lebih tajam, lebih jernih,
dan tak lagi "terikat" oleh ruang dan waktu. Sang nenek yang buta
itu ternyata justru menjadi "juru penerang" bagi mereka yang memiliki
kelengkapan indrawi.
Kedua, seringkali kelengkapan indrawi tidak otomatis menjadikan
kita peka atau sensitive dalam merespon lingkungan dan fenomena-fenomena.
Al Qur'an dengan jernih mengingatkan bahaya ketidakpekaan inderawi
itu, " Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan
jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk
memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan
(ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat
lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah" (Al A'raf/7:179).
Padahal, sesungguhnya kelengkapan indrawi adalah suatu anugerah
besar dari Allah, yang bisa menjadi sarana untuk bersyukur, sebagaimana
dijelaskanNya dalam Al Qur'an, "Dan Dialah yang mengeluarkan kami
dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan
Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu
bersyukur." (An Nahl/16: 78).
Sang nenek tua yang buta di atas, seolah mengingatkan kita dengan
sindiran yang sangat halus, bahwa betapa banyak yang punya indra
penglihatan tetapi sesungguhnya buta; tidak mampu membedakan mana
hitam mana putih; tidak sanggup menatap kenyataan diri. Banyak yang
punya telinga tapi sebenarnya tuli; tidak bisa mendengar apalagi
merespon peristiwa-peristiwa di sekitarnya. Tidak peka terhadap
perubahan; tidak mendengar atas rintihan dan keluhan; tidak peduli
terhadap jeritan dan tangisan. Begitu juga banyak yang punya hati
tapi beku; tidak mampu berempati pada yang lain; tidak memiliki
rasa simpati.
Inilah yang disebut sebagai sebuah ironi indrawi. Maka, orang yang
demikian ini perlu diberi "obor"; diberi penerangan; diberi pencerahan;
disadarkan dan difungsikan indrawinya agar mampu merespon setiap
gejala dan fenomena; supaya mampu menangkap makna di balik peristiwa.
Maka, menarik untuk mengutip Bruno Guiderdoni (seorang intelektual
Perancis yang memiliki nama "Muslim" Abdul Al-Haqq Ismail) ketika
menjelaskan makna penting indrawi-sebuah anugerah Allah yang diberikan
kepada manusia sebagai sarana-sarana untuk "mengetahui".
Dengan mengutip surat An-Nahl/16 ayat 78 di atas; beliau memaparkan
bahwa pendengaran (al sam') adalah kelengkapan manusia untuk menerima
dan mematuhi petunjuk tekstual yaitu Al-Qur'an dan as-Sunah yang
merupakan dua sumber pengetahuan religius. Pendengaran terkait erat
dengan ketundukan pada kehendak Allah seperti yang juga dinyatakan
oleh Al-Qur'an, "kami dengar dan kami taat" (sami'na wa atha'na).
Maka, pendengaran di samping sebagai simbol sarana pengetahuan tekstual
juga merupakan simbol ketaatan pada syariah.
Penglihatan (al-bashar) adalah indra pengetahuan yang memungkinkan
manusia mengetahui, merenungkan atau berefleksi terhadap fenomena-fenomena
[alam semesta]. Indra ini sangat erat hubungannya dengan pengetahuan
rasional (sunnatullah di alam semesta).
Dan hati (qalb) adalah tempat intuisi pengetahuan dan kontemplasi
tentang kebenaran, yang memungkinkan untuk menghubungkan ayat-ayat
kauliyah (Al-Qur'an dan As-Sunah) atau ayat-ayat kauniyah (alam
semesta) kepada Sang Khalik. Dari hati inilah akan lahir pandangan
batin (al-bashirah) yaitu kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan
langsung dari Allah, melalui penyingkapan spiritual.
Dengan memfungsikan secara optimal tiga sarana yang diberikan Allah
kepada manusia tersebut, manusia akan menjadi makhluk yang gemilang
karena ia akan memperoleh tiga "penyingkapan", yaitu pertama, penyingkapan
syariat karena ia mampu menelaah dan mematuhi hukum yang diwahyukan
(syariah) yang disimbolkan dengan optimalisasi pendengaran; kedua,
penyingkapan terhadap keteraturan dan keajaiban jagad raya karena
ia mampu menelaah hukum yang ditorehkan Allah pada alam semesta
yang disimbolkan dengan optimalisasi penglihatan, dan yang ketiga,
penyingkapan batin yang ia peroleh langsung dari petunjuk Allah
sebagai hasil olah hati. Semoga! (*)
Menganti, 8 Maret 2006
Mohammad Nurfatoni
|