Kerja Itu Siksa?

Kerja itu siksa. Betulkah? Dalam bahasa Prancis, kerja adalah travail yang diderivasikan dari bahasa Latin trepalium. Trepalium itu sendiri ternyata adalah alat yang terdiri dari tiga lapis dan dipakai untuk menyiksa orang (Bondan Winarno, 1990). Jadi kerja itu siksaan tersendiri?

Memang, kerja itu bukan sesuatu yang ringan dan sepele. Kerja membutuhkan energi yang besar. Tengoklah para abang becak; buruh-buruh di pabrik; pekerja bangunan; atau petani-petani di desa. Berapa energi fisik yang harus dikeluarkan dalam menyelesaikan pekerjaan?

Beratnya kerja bukan saja karena seseorang harus mengeluarkan tenaga untuk melakukannya. Orang-orang yang bekerja dengan otaknya bahkan sering berkata bahwa kerja otak lebih berat. Berpikir atau kerja otak diperlukan untuk merumuskan konsep atau memecahkan sebuah dilema. Berpikir adalah kerja keras. Membuat keputusan adalah kerja keras. Jadi kerja itu memang berat. Bahkan berpikir tentang kerja itu sendiri pun sudah berat. Karena itukah, kerja itu siksa?

Kerja menjadi siksa apabila kerja yang berat itu kita anggap sebagai sebuah beban. Seolah-olah kerja adalah penjara, dan kita ingin segera terlepas darinya. Dalam posisi seperti itu, kerja adalah sebuah keter¬paksaan. Jika bukan karena, maaf, uang mungkin kita tidak melakukannya.

Berbeda jika kita menganggap kerja sebagai sebuah tantangan, maka kita merasa selalu tertantang untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik. Kerja kita adalah proses pemuasan terhadap tantangan yang hendak kita selesaikan. Dengan demikian, proses kerja itu sendiri akan memberikan kepuasan. Jadi, kita nikmati saja pekerjaan itu!

Lebih tinggi dari sekedar tantangan, kerja itu sendiri sebenamya adalah bagian dari keseluruhan ibadah. Seperti kita ketahui bahwa kita, manusia, tidak diciptakan kecuali hanya untuk beribadah (Adz-Dzariyat/51:56). Artinya, seluruh aktivitas keseharian kita sebenarnya adalah dalam rangka ibadah, tak terkecuali kerja itu sendiri. Asal, tentu saja, kerja yang kita lakukan tersebut hanya termotivasi oleh Allah dan dilakukan dengan cara yang benar (tidak melanggar nilai).

Dengan memahami kerja sebagai ibadah, bukan saja kita merasa puas dan menikmatinya, lebih dari itu, kita sesungguhnya telah menanam akar-akar kebaikan (pahala). Jelaslah, bahwa kerja itu bukan siksa melainkan bagian dari ibadah—yang kita merasa puas menikmatinya.

Kecanduan Kerja
Dengan kerangka seperti itu, lantas bagaimana yang orientasinya adalah kerja-kerja-kerja? Seperti halnya alkoholic—yakni orang-orang yang kecanduan alkohol dan tidak bisa melepaskan ketergantungan terhadapnya—mereka yang kecanduan kerja sulit sekali melepaskan diri dari kegiatan kerja. Pikiran, konsentrasi, dan tenaga mereka curahkan sepenuhnya untuk pekerjaan.

Sehatkah gejala kecanduan kerja ini? Sebenarnya, seperti diuraikan di depan, menikmati pekerjaan itu sesuatu yang dianjurkan. Namun, jika sampai kecanduan, akan menimbulkan masalah tersendiri. Mengapa? Pertama, pecandu ini akan menghancurkan keseimbangan biologis dalam tubuhnya. Para pecandu kerja mempunyai tendensi menomorduakan kesehatan. Akibatnya mereka akan menelantarkan olahraga yang cukup, makan yang sehat, dan istirahat. Tidak jarang mereka terkena penyakit berat akibat pola kerja yang berlebihan.

Kedua, kecanduan kerja juga tidak sehat untuk kejiwaan. Jika pikiran dan konsentrasi digunakan melebihi batas kewajaran, akan timbul kejenuhan dan kelelahan, bahkan stress. Mungkin, ekstremnya, kegilaan terhadap kerja akan berbalik menjadi: kerja membuat gila.

Ketiga, kecanduan kerja juga akan menghancurkan keseimangan sosial. Keluarga, adalah komponen sosial pertama yang menerima ekses dari pecandu-pecandu kerja. Waktu, perhatian, dan bimbingan terhadap istri (suami) dan anak-anak menjadi terabaikan.

Pecandu-pecandu kerja juga menjadi orang yang tidak peduli terhadap persoalan sosial di lingkungannya. Mereka menjadi manusia steril. Terbebas dari masalah-masalah sosial yang membelit masyarakat. Dari sisi individual, hal itu mungkin menguntungkan bagi mereka, karena tak perlu lagi dipusingkan oleh persoalan-persoalan di luar dirinya. Akan tetapi sosok yang demikian telah tercerabut dari akar kemanusiaan, yang pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Keempat, melupakan kehidupan akherat adalah kemungkinan yang bisa terjadi pada para pecandu kerja. Perintah yang berbunyi “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akherat dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari dunia… “(Al-Qhashas/28:77), bisa berbalik menjadi “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kehidupan dunia, dan janganlah melupakan kebahagianmu di akherat.” Jadi kerja (dunia) telah menjadi tujuan, bukan sebagai sarana menuju akherat.

Pada akhirnya, menjaga keseimbangan hidup menjadi penting dilakukan. Agar, kerja yang mestinya menjadi salah satu cara kita menyelesaikan masalah, tidak berbalik menimbulkan masalah. Menyiksa kita di esok hari.

Mohammad Nurfatoni
Dipublikasikan pertama kali tanggal 11 Juli 1997 pada buletin Hanif, terbit di Surabaya

Share!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0

Related Post