Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah memberikan wahyu kepada seorang Nabi dari Bani Israil sebagai berikut:
1. Kamu diam dari banyak bicara omomg kosong, karena Aku, sama pahalanya dengan puasa.
2. Kamu hindarkan anggota badanmu dari hal-hal yang diharamkan, demi Aku, sama pahalanya dengan dirimu mengerjakan shalat.
3. Kamu hindarkan dirimu dari ketamakan terhadap kepunyaan orang lain, demi Aku, pahalanya sama dengan bershadaqah.
4. Kamu cegah dirimu dari menganggu orang muslim, karena Aku, sama pahalanya dengan jihad.
Terdapat beberapa hal yang perlu kita perhatikan secara seksama mengenai maksud dan isi riwayat tersebut.
Pertama, Allah berkenan agar setiap individu memiliki dan mengembangkan keterampilan menata diri. Sebuah kecakapan yang dibutuhkan bukan untuk sekedar Self Control, akan tetapi jauh daripada itu turut membentuk apa yang disebut dengan “Positif Character Puilding” .
Saat ini, sebuah situasi yang saling mengkambing hitamkan lingkungan (external factor) telah mempercepat tumbuhnya perasaan saling curiga diantara sesama dan kewaspadaan diri terhadap berbagai ancaman kejahatan yang datangnya dari luar. Sehingga mengagas upaya “mendidik” lingkungan untuk menjadi lebih baik dan ramah selalu menjadi topik menarik untuk dibahas. Mulai dari tumpahnya berbagai keluhan terhadap ancaman, hingga berujung pada ketiadaberdayaan dan ketidaktahuan akan apa yang harus diperbuat sekarang, terlebih-lebih mulai darimana dan kapan?
Ibda' bi nafsii... mulai dari dirimu, perintah singkat yang diberikan Rasululullah saw. Untuk mempertegas darimana memulai mengurau benang kusut keruwetan hidup yang lama berlangsung.
Dengan mendidik diri, memastikan terlebih dahulu bahwa diri kita bukanlah ancaman bagi lingkungan, telah memberikan kejelasan areal bidang garap didalam menuju harmonisasi kehidupan.
Upaya memastikan bahwa diri kita bukanlah bagian dari masalah yang ada, dengan tidak turut menyebar kabar bohong—-tidak melakukan tindakan haram—-tidak tamak-tidak menjadi ancaman kerugian bagi orang lain, menjadi keharusan utama langkah menuju perbaikan lingkungan dengan tindakan menggarap diri.
Hal ini dilakukan sebagai upaya mengimbangi langkah kemubadziran yang selama ini dilakukan oleh sebagaian besar masyarakat kita. Yang seringkali sibuk mengeluh dan saling menyalahkan pihak lain.
Kedua, Allah berkenan agar keseluruhan tindakan di dalam proses mendidik diri ini benar-benar bermotivasikan ibadah karena Dia, Allah SWT.
Keseluruhan tindakan terlahir oleh karena motifasi yang bersifat transenden, bukan lahir oleh karena sekedar dorongan moralitas ataupun nafsu belaka.
Moralitas dapat melahirkan dan mendasari perilaku kebaikan, namun motif ini masih berfokus pada kebaikan dan keuntungan diri sendiri walaupun tidak terlalu vulgar sebagaimana motif hawa nafsu.
Untuk itu perbuatan baik yang lahir oleh karena kesadaran iman kepada Allah menjadi penting, terlebih-lebih disaat menjalankan kebaikan dan kebenaran secara sendirian., tanpa teman dan dukungan.
Oleh karena besarnya kesulitan melakukan kebaikan dikala tanpa iringan dan dukungan banyak orang itulah, kemurnian niat karena Allah menjadikan seorang individu tetap istiqomah melakukan kebaikan yang tak lagi butuh pengakuan siapapun kecuali ridha-Nya.
Ketiga, pentingnya kesalehan sosial sebagai sebuah tuntutan disamping kesalehan ritual, guna menjaga keharmonisan perkembangan spiritualitas dalam diri manusia. Sebab diantara ciri agama samawi adalah tegarnya iman yang berbuah amal kebajikan.
Agama Allah yang diajarkan pada semua utusan-Nya bukanlah sekedar agama imaniyah tanpa amal, berujung pada kerahiban. Atau agama amaliyah tanpa motif iman yang jelas, berujung pada humanisme.
Keempat, disana Allah memberikan penjelasan betapa semua sisi amal sosial memiliki “padanan”, kesetaraan atau sama dengan derajat amal ibadah ritual, namun bukan berarti semua amal sosial tersebut “dapat mengantikan” tuntutan perilaku ibadah ritual.
Kedua amal tersebut, sosial maupun ritual, tetap penting untuk dilakukan secara “Tauhid”. Dan bukan untuk dipilih salah satu, sebab yang satu tak dapat mengantikan yang lain, apalagi dipertentangkan. (HPH)
Progress Report adalah laporan perkembangan pekerjaan pelanggan. Link ini, merupakan bukti keseriusan kami terhadap amanah yang diberikan pelanggan kepada kami.
Kata Kunci Al Quran:
Oleh: Ust Ahmad Hariyadi MUSHIBAH Senin, 9 Apr 2007 12:24 WIB
Bagaimana kesudahan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah? Bagaimana proses kehancuran para penentang para rasul?
Pagi pukul 06.30. Kompleks perumahaan kami didatangi banyak loper koran—tepatnya koran kriminalitas terbitan Surabaya. Mereka berteriak-teriak menyebut nama komplek perumahan kami. Langsung terbayang ...