Orang-orang di Pojok Kehidupan

Bareng Web“Apabila engkau telah berada di dalam keluangan (setelah tadinya engkau sibuk), maka (bersunguh-sunguhlah bekerja) sampai engkau letih, atau tegakkanlah (persoalan baru) sehingga menjadi nyata.”

(Terjemah bebas M. Quraish Shihab dari ayat faidza faragta fanshab QS Alam Nasrah/94:7)

Pojok Kehidupan. Demikian, kami menamai sebuah rubrik pada majalah Eksis, yang pernah terbit setiap bulan dan beredar untuk kalangan terbatas. Pada rubrik tersebut, kami tampilkan sosok-sosok “pejuang” kehidupan. Ada sosok Pak Reban, pria 52 tahun penjual kerupuk. Dalam sekali keliling, beliau harus berjalan kaki mengarungi jejalanan aspal sejauh 30 km, sepanjang Dawar Blandong, Mojokerto – Menganti, Gresik. Perjalanan yang biasa ditempuh tiga hari itu menghasilkan keuntungan lima belas ribu perak, dari penjualan 50-60 renteng krupuk yang dibawanya.

Ada pula Pak Widji, penjual harum manis. Pria yang telah berumur 74 tahun ini, sehari bekerja selama 11 jam, sejak pukul tujuh pagi sampai enam petang. Waktu sebanyak itu dilaluinya dengan berjalan kaki, sambil menenteng “biola” sebagai alat yang dibunyikan untuk pertanda dan penarik perhatian calon pembelinya, sang anak-anak kecil. Dalam perjalanan panjang itu, beliau berhasil mengais keuntungan lima belas ribu perak sehari.

Dua sosok di atas hanyalah sedikit dari potret masyarakat kecil kita, yang seringkali tak tersentuh oleh proses pembangunan. Mereka tidak merasakan pesatnya kemajuan. Mereka adalah orang-orang yang terpinggirkan dan terpojokkan pada sudut-sudut kehidupan. Mereka bekerja, sebatas apa yang bisa dia usahakan; sebatas yang bisa dilakukan.

Tetapi, justru dalam keterpojokan itulah kita menemukan sosok-sosok pekerja keras. Bayangkan, untuk mendapatkan uang yang “hanya” lima belas ribu rupiah, mereka harus berjalan kaki puluhan kilometer; meluangkan waktu puluhan jam; rela termakan oleh terik panas mentari; terhembus oleh angin kencang; berpeluh kecut campur debu.

Dalam persoalan kerja keras ini, Pak Reban dan Pak Widji adalah contoh tafsir hidup dari firman suci di atas; firman yang memberi motivasi tentang kerja keras; bekerja tanpa letih, dan tanpa sedikit pun terbuai oleh waktu luang yang melenakan.

Bahkan, mereka bukan saja pekerja keras. Tetapi sosok-sosok yang sangat jujur, dan sama sekali tak tersentuh oleh hal-hal yang (berbau) haram. Mereka mendapat penghasilan murni dari kerja kerasnya. Tidak ada sama sekali unsur korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Mereka sadar betul bahwa nilai seseorang tidak dilihat dari harta kebendaan—sehingga mengharuskan mereka bekerja dengan melanggar nilai-nilai—melainkan betul-betul dinilai dari proses mereka dalam bekerja; sejauh mana mereka telah bergerak, berupaya, dan berketetapan, dengan sungguh-sungguh. Soal hasil, mereka tidak terlalu terpana oleh impian-impian. Mereka merasa cukup bisa hidup, bisa makan, bisa menyekolahkan anak; sesederhana apa pun sekolah itu.

Lebih dari itu, mereka sadar bahwa segala kekayaan bersumber dari Allah, Yang Maha Kaya Wawajadaka ‘aailan fa aghnaa (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekuarangan, maka Dia memperkaya kamu—Adh Dhuha/93:8).

Oleh karena itu, siapa yang menginginkanya, maka dekatilah Allah; pasrahlah pada Allah. Maka, bisa kita lihat bahwa mereka adalah sosok-¬sosok yang memiliki tingkat “kepasrahan” tinggi pada Tuhannya. Tentu, bukan kepasrahan dalam konotasi negatif. Sebab mereka telah sangat keras berusaha. Tetapi sebuah kepasrahan yang menakjubkan; bahwa nilai manusia adalah bekerja (keras); sementara hasilnya sepenuhnya digantungkan pada Allah, Yang Maha Hidup dan Pemberi Kehidupan. Sementara Allah Maha Kaya.

Pak Reban dan Pak Widji—semoga—adalah tafsir nyata dari firman Allah, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah, Dia akan memberi jalan keluar (bagi kesulitannya), dan memberinya rezeki dari arah yang tak pernah dia duga” (At Thalaq/65:2-3).

Bisa jadi, jejak-jejak tapak mereka adalah panjatan doa; kucuran keringat mereka adalah pengharapan, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang terpojokkan; orang-orang yang lemah dan dilemahkan.

Mohammad Nurfatoni
Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di buletin Hanif, terbit di Surabaya 26/06/2002

Share!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0

Related Post