Senin, Hari Kedua

:: KENANGAN 6 TAHUN YANG LALU

Tersedak suaraku. Terhenti munajatku. Berlinang air mataku. Campur aduk: antara haru biru; rasa iba; tekanan dead line; dan harap-harap cemas pertolongan_Mu.

Pagi itu kuminta kawan produksi masuk jam 06.00 pagi. Genting dan mendesak, kataku dalam SMS malam sebelumnya. Rabu pekerjaan sudah harus sampai Jakarta. Padahal, hari Ahad, tanggal merah itu, mereka telah masuk kerja; lembur entah untuk yang ke berapa…? Karena itu, Senin aku sebut sebagai hari kerja kedua. Dan kantorku aku sebut sebagai rumah pertama kami. Sebab, di sinilah kami lebih sering menghabiskan waktu; minimal selalu berakhir jam 20.00. Kadang sering lebih, bahkan pagi bertemu pagi. Nyaris, kami tak berjumpa hangatnya matahari.

Mungkin kami telah kehilangan kehangatan keluarga. Anak-anak yang tersapa dalam lelap mimpinya. Istri yang baru tersisikan dalam keletihan kami. Tetangga yang mencari-cari kami, bak mencurigai kami sebagai teroris: ke mana gerangan orang sebelah itu?

Ini semua karena ambisi omset itu, yang sering aku bungkus dengan kalimat manis: “misi bersama”, “kerja keras sebagai ibadah”, “kesejahteraan bersama”. Maka sebuah pantangan menolak pekerjaan; meski tata-sistem produksi yang belum terpadu.

Aku tatap wajah kawan marketing yang sayu; seperti habis ketimpa haru. Mereka dirudung hari-hari yang sesak, sehingga libur pun tak nyenyak. Dua gengam nomer ajaib yang disandangnya itu berdentum bagai meriam yang dilesakkan. Antara kaget dan cemas oleh waktu yang terlewat; juga harapan untuk tetap mengais rizki, demi target yang sangat membekas.

Tapi selain keharuan itu, kami bersyukur; ternyata dengan itulah kami menjalani sebuah sekolah kehidupan. Kami bekerja bukan sekedar memburu nafkah atau belajar tentang kode-kode profesionalisme; tapi lebih dari itu kami belajar tentang seluk-beluk kehidupan.

Di sini kami belajar negoisasi, diplomasi, dan [menahan] emosi. Kami juga belajar menghadapi tantangan. Bertubi-tubi pekerjaan yang harus tuntas tak masuk akal; tetap kami harus tertantang.

Dan yang lebih dahsyat lagi, kami belajar mempraktikkan ayat-ayat cinta_Mu. Di sinilah kami belajar tentang wainnallaha lahuwa khairurraazikiin [dan sesungguhnya Dialah sebaik-baik pemberi rizki]. Rizki kami tergantung pada_Mu. Memang, hampir tak ada pekerjaan rutin yang selalu menanti. Hari-hari kami adalah harapan dan kecemasan akan kemurahan rizki_Mu.

Di sinilah kami belajar tentang tafsir faidza faraghta fanshab [Maka apabila engkau telah berada di dalam keluangan (setelah tadinya engkau sibuk), maka (bersungguh-sungguhlah bekerja) sampai engkau letih, atau tegakkanlah (persoalan baru) sehingga menjadi nyata.]

Di sini kami juga belajar tafsir inna maal usri yusra, wainna maal usri yusra [sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan, dan (sekali lagi), sungguh bersama kesulitan ada kemudahan]. Tafsir-tafsir itu kami tanamkan dalam benak; kami yakini bahwa sabda_Mu benar. Di tengah kesulitan-kesulitan, keruwetan-keruwetan, kemusykilan-kemusykilan, selalu datang pertolongan_Mu. Itu yang membuat kami takjub!

Kami pun bersyukur, meski harus bekerja keras luar biasa; berkeringat dan berdarah-darah, tapi itu lebih nikmat dibanding jika kami harus menganggur; mendengkur, dan mengiba-iba bantuan belas kasih orang. Kami bersusah payah bekerja, tapi masih lebih susah jika tidak bekerja.

Kami juga berbahagia, karena kini masa depan kami mulai terlirik. Mimpi rumah idaman itu mulai terkuak. Semoga mimpi-mimpi lain pun menjadi nyata dalam hidup kami.

Allah, tetap beri kami kekuatan dan ketabahan. Limpahi kami rizki yang bersih dan barakah. Beri kami kesabaran, juga istri[suami] dan anak-anak kami. Amien!

Surabaya, 24 Desember 2007
Mohammad Nurfatoni

Share!Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0

Related Post